Minggu, 11 September 2016

Info Seputar Hari Raya Idul Adha
by Tofah Yuliantika

Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen penting bagi umat Islam yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah. Jika dihitung setelah Hari Raya Idul Fitri, maka Idul Adha tepat berselang 70 hari. Hari Raya Idul Adha disebut pula sebagai Hari Raya Haji karena pada hari tersebut bersamaan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji, yaitu ketika para jamaah haji melakukan lempar jumrah atau melempar batu kerikil ke tiga tiang yang melambangkan iblis. Ketiga tiang tersebut adalah jumrah aqobah, wustho, dan shugro/ula. Pelaksanaan tersebut dilakukan di Mina, Arab Saudi. Selain Hari Raya Haji, Idul Adha disebut juga dengan Hari Raya Kurban karena pada hari tersebut identik dengan penyembelihan hewan kurban yakni kambing, sapi, dan unta.
Bicara tentang Idul Adha, kita tidak bisa lepas dari sejarah nabi Ibrahim as. dan nabi Ismail as.. Dalam kisah nabi Ibrahim as. diceritakan bahwa beliau merupakan seorang peternak yang sukses, namun beliau tidak pernah merasa sombong. Suatu ketika, beliau ditanya perihal kepemilikan hewan ternaknya, dan beliau menjawab bahwa beliau memiliki semuanya itu hanya bersifat sementara. Sejatinya semua hewan ternak yang dimiliknya merupakan titipan dari yang maha kuasa (Allah), yang apabila sudah waktunya, semua titipan tersebut akan diambil kembali oleh-Nya, bahkan Ismail as. sekalipun yang merupakan anak kesayangannya. Untuk menguji kebenaran dari ucapan tersebut, Allah memerintahkan beliau lewat mimpinya, bahwa beliau harus bersedia mengobankan anaknya, Ismail as., untuk disembelih. Awalnya beliau enggan untuk melakukan perintah tersebut, namun dengan persetujuan istri dan keikhlasan Ismail as., beliau memantapkan keputusannya. Namun, ketika beliau hendak memotong leher anaknya, Ismail as. telah digantikan dengan seekor domba. Dengan begitu Ismail as. terlepas dari kematian, dan hari itu menjadi hari pertama dilaksanakannya penyembelihan hewan kurban atau perayaan Idul Adha.
Sebelum Hari Raya Idul Adha, umat islam yang tidak melaksanakan ibadah haji disunahkan untuk melakukan puasa Tarwiyah dan Arafah terlebih dahulu. Puasa tersebut dilakukan selama dua hari sebelum hari raya, yaitu tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah disebut puasa Tarwiyah, sedangkan puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah disebut puasa Arafah. Puasa pada tanggal tersebut merupakan wujud penghormatan kepada para jamaah haji yang sedang melakukan Tawwaf Qudum di Masjid Al Haram, Makkah, dan Wukuf di padang Arafah. Keistimewaan bagi para umat Islam yang melakukan puasa tersebut adalah dosa-dosanya telah dihapus atau dimaafkan oleh-Nya selama 3 tahun, yaitu 1 tahun yang telah lewat, 1 tahun sesudah dan 1 tahun yang akan datang.
Perayaan Idul Adha biasanya diperingati dengan Sholat Ied terlebih dahulu yang dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Pelaksanaan sholat Ied Idul Adha sama dengan sholat Ied Idul Fitri. Seletah pelaksanaan sholat Ied, terkadang para ustadz menambahkan sedikit ceramah sebelum penyembelihan hewan kurban. Penyembelihan hewan kurban tidak diharuskan untuk semua orang, melainkan hanya untuk orang-orang yang mampu.
Tidak semua hewan bisa untuk di kurbankan. Hewan yang dikurbankan harus memenuhi beberapa syarat, yaitu berjenis kelamin jantan, sudah berumur atau dewasa, sehat fisik maupun jiwa, dan tidak memiliki kecacatan. Ketentuan dalam berkurban juga tergantung pada hewan apa yang dikurbankan. Kambing hanya untuk kurban satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan unta untuk sepuluh orang, namun diperbolehkan pahalanya diniatkan untuk satu keluarga. Selain ketentuan tersebut, berkurban juga diperbolehkan dengan mengatasnamakan orang yang telah meninggal.
Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban biasanya dilakukan secara bersama-sama atau gotong-royong antar warga. Warga laki-laki biasanya bekerja dari penyembelihan, pembersihan, pemotongan, hingga pembagian. Warga perempuan biasanya bekerja di dapur, memasak makanan yang akan dimakan bersama-sama dengan warga yang membantu dalam penyembelihan hewan kurban.
Pembagian daging hewan kurban biasanya dibagikan secara merata untuk warga yang beragama Islam, namun diprioritaskan untuk beberapa golongan. Golongan yang diprioritaskan adalah keluarga yang menjadi tanggungan orang yang berkurban, warga yang kurang mampu (fakir dan miskin), yatim piatu, dan pengurus masjid.

            Di samping  pelaksanaan peringatan hari raya Idul Adha, terdapat beberapa hari tasyrik atau hari dimana diharamkannya umat islam untuk melakukan puasa karena pada hari tersebut umat islam dianjurkan untuk makan dan minum. Menurut ajaran Islam, hari tasyrik juga dapat diartikan sebagai hari dzikir. Dzikir yang dimaksud adalah berdzikir kepada Allah dengan membaca takbir Allah setelah melakukan sholat wajib. Hari tasyrik tersebut adalah tanggal 10 Dzulhijjah atau saat Idul Adha itu berlangsung, dan tiga hari setelah Idul Adha berlangsung, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Secarik Cerita Idul Adha

Jam menunjukkan pukul 7 malam
Pada saat itulah umat muslim bertakbir
Terdengar kumandang takbir yang begitu indah
Nyala kembang api menghiasi gelapnya malam
Pagi pun menjelang....
Segenap umat muslim menjalankan ibadah dengan khidmatnya
Selepas itu, bercucurlah darah dari hewan Qurban
Bahagia hati nian umat muslim menjalankan ibadah Idul Adha

Hendarmawan Pangestu
Purwokerto, September 2016
         


BERQURBAN WAKTU
By Melisa 

Pada suatu pagi yang cerah semua umat islam berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan ibadah shalat sunah idul adha di lanjutkan dengan pemotongan hewan qurban. Andi seorang anak yang masih berusia 7 tahun pergi ke masjid bersama orang tua serta kakaknya, setelah selesai melaksanakan shalat sunah Andi bertanya kepada ayahnya.
“ Ayah apa idul adha itu?” ujarnya sambil melihat hewan-hewan yang akan di sembelih di sekitar masjid
Ayah andi tersenyum melihat anak kecilnya kebingungan, lalu segera ayahnya menjelaskan.
Idul Adha adalah hari raya islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, ketika akan menyembelih anaknya Allah mengganti Ismail dengan domba. Pada hari ini umat islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan shalat ied bersama-sama di lapang, seperti ketika merayakan hari raya Idul Fitri, setelah shalat dilakukan peyembelihan hewan kurban untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.
Hari raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri, hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik di haramkan berpuasa bagi umat Islam. Pada hari raya Idul Adha, kaum muslimin selain di anjurkan melakukan shalat sunnah dua rokaat juga di anjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran kurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putranya Nabi Ismail.
Peristiwa ini memberi kesan bagi kita, betapa tidak Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun, ternyata di perintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim di tuntut untuk memilih antara melaksanakan perintah tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang sangat sulit. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Allah pun dilaksanakan, dan pada akhirnya Nabi Ismail tidak di sembelih digantikan oleh Allah dengan seekor domba. (QS. Al-Shaffat:102-109)
Andi memeluk Ayahnya sambil berkata.
“hmmm, iya ayah sekarang aku mengerti.”
“Andi memang anak yang cerdas.” Ujar Ayah sambil mencubit pipi Andi
Andi yang penasaran melihat langsung penyembelihan hewan kurban mengajak Ayahnya ke tempat penyembelihan hewan kurban, disana sudah banyak hewan yang akan segera di potong, Andi bertanya kembali kepada Ayah.
“Ayah kenapa ada sapi dan kerbau, bukankah yang menjadi hewan untuk kurban hanya kambing/domba saja?”
Ayah menjelaskan kembali kepada Andi sambil duduk di antara orang-orang yang ada di sana.
“Tidak nak,”
Ada beberapa hewan yang bisa dijadikan sebagai hewan kurban diantarnya:
·         Kambing Ternak berlaku untuk satu orang
·         Domba Peliharaan berlaku untuk satu orang
·         Sapi berlaku untuk 7 orang
·         Kerbau berlaku untuk 7 orang
·         Onta berlaku untuk 10 orang
Selain dengan menggunakan binatang ternak yang telah ditentukan tersebut, hewan kurban memiliki memiliki beberapa syarat lain. Syarat itu seperti:
·         Keadaan hewan kurban yang tidak cacat fisik
·         Usia hewan yang sudah cukup umur (satu tahun lebih untuk domba; dua tahun lebih untuk kambing, sapi, dan kerbau; dan lima tahun untuk unta)
Andi terdiam sambil memegang permen, lalu ayah Andi bertanya?
“Kamu kenapa nak?”
“Aku ingat dengan ibu-ibu yang kemarin yah,”
“Ibu-ibu yang mana?”Ayah kebingungan
“Ibu-ibu yang kemarin ada di depan sekolahku yah?’’
“Apa yang terjadi nak?”
Andi menceritakan tentang ibu-ibu yang dia temui kemarin.
            Ketika aku sedang menunggu Ayah menjemput, aku melihat seorang ibu-ibu yang sedang duduk karena kelelahan, aku menghampirinya sambil memberinya air minum yang aku bawa dari rumah. Namanya bu Irah Dia bercerita tentang keinginannya untuk berkurban, tetapi uang yang sudah dikumpulkan selama satu tahun itu hilang ketika bu Irah pergi ke pasar untuk membeli hewan kurban, ketika bu Irah sedang asik memilih dan bernego harga kambing bu irah lupa meletakkan dompetnya di dalam tas yang terbuka, entah jatuh atau ada yang mengambil ibu Irah tidak tau, dia yang panik ketika sadar dompet yang berisi uang itu tidak ada dalam tas nya dia menangis dan mencari kesana-kemari, tapi nihil bu Irah tidak menemukan kembali uangnya. Selama setahun itu bu Irah berjualan gorengan setiap pagi sampai sore agar terkumpul uang untuk membeli kambing untuk berkurban tahun ini tapi kecelakaan itu membuat bu Irah harus mengubur kembali mimpinya untuk berkurban tahun ini.
Lalu ayah bertanya:
“Kasihan sekali bu Irah,”
“Iya yah, apakah Ayah bisa membantu bu Irah?” Andi memegang tangan Ayah yang sedang duduk
“Membantu bagaimana nak?” Ayah menengok ke arah Andi
“Tahun ini kita kurban kan yah?”
“Iya nak, tahun ini kita kurban satu ekor sapi,”
“Seperti yang Ayah bilang satu ekor sapi bisa untuk berkurban 7 orang kan yah?”
“Benar nak, lalu kenapa?”
“Ayah bisa tidak memasukkan nama bu Irah ke daftar 7 orang itu?”
“Bisa nak, untuk tahun ini biar bu Irah kurban masuk ke keluarga kita.” Ayah melanjutkan
“Tapi tahun depan bu Irah bisa kurban kembali dengan uang nya sendiri agar lebih apdol”
Andi terdiam lagi lalu berkata :
“Ayah bisa antar aku kerumah bu Irah, kita harus memberi tahu bu Irah yah kalau tahun ini dia bisa berkurban?”
“Apakah kamu tahu rumahnya nak?”
“Aku tahu yah kemarin bu Irah memberiku alamatnya,”
“Baiklah Ayah antar sekarang.”
Ternyata rumah bu Irah tidak terlalu jauh dari rumah Andi, karena asik mengobrol dengan Ayah aku tak sadar kalau aku sudah sampai di depan rumah bu Irah, lalu aku turun dan menghampiri bu Irah yang sedang duduk di depan rumah.
“Bu Irah,” Andi berlari karena tidak sabar memberi tahu kabar baik kepada bu Irah.
“Iya Andi, ada apa?” bu Irah yang tampak masih sedih menjawab Andi dengan suara yang pelan.
“Ibu sekarang ikut aku, ibu bisa kurban tahun ini?”
“Sudah nak, Ibu kurban tahun depan saja.”
Mendengar bu Irah berkata seperti itu Andi dan Ayahnya terdiam dan merasa terharu karena bu Irah sangat sabar dan mau menunggu dan mengumpulkan kembali uang agar tahun depan bisa berkurban. Lalu Ayah Andi mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya dan memberikan uang tersebut kepada bu Irah.
“Ini ada uang sedikit untuk ibu, ibu bisa pakai untuk modal terlebih dahulu jika ibu tidak mau berkurban tahun ini.”
“Terimakasih pak, tapi saya tidak bisa menerima uang itu.”
“Tidak apa-apa bu, ambil saja.”
“Tapi saya tidak tahu harus menggantinya dengan apa pak, saya tidak punya apa-apa.”
“Jangan pikirkan itu bu, pakai ini untuk modal berjualan gorengan, saya ikhlas tidak mengharapkan apapun dari ibu.”
“Iya bu ambil saja!” ujar Andi sambil tersenyum
Sebenarnya bu Irah enggan mengambil uang pemberian Ayah Andi tapi bu Irah juga sangat membutuhkan uang itu untuk modal berjualan agar dia bisa menabung untuk berkurban tahun depan, karena bu Irah sudah bertekad harus berkurban dengan uang hasil keringat nya sendiri.
“Baik pak, saya ambil uang ini tapi ketika saya sudah ada cukup uang untuk mengganti, saya akan mengganti uang bapak.”
“Jangan pikirkan itu bu,”
“Terimakasih atas kebaikan bapak dan Andi semoga Allah membalasnya.”
“Aminnn.” Andi dan Ayahnya mengangkat kedua tangannya.
            Setelah memberikan uang kepada bu Irah Ayah dan Andi pulang kembali ke rumah, lalu Ayah berkata intinya semua niat yang baik pasti ada jalannya, walaupun bu Irah sudah tua bu Irah tidak mau mendapatkan sesuatu itu secara instan, perlu perjuangan dan pengorbanan untuk segala sesuatu, karena percayalah tiada hasil yang menghianati usaha. Dan bu Irah termasuk orang yang mau berkurban waktu  dan menunggu tahun depan agar bisa berkurban. Allah bersama orang yang sabar dan mau berusaha, ini pembelajaran untuk kita semua untuk mendapatkan sesuatu itu tidak selalu mudah harus sabar dan terus berusaha, pantang menyerah dalam melakukannya. Allah pasti akan mengabulkan doa-doa kita tapi ada waktunya, jadi ketika apa yang kita harapkan belum tercapai jangan pernah berprasangka buruk terhadap takdir Allah, karena tau mana yang terbaik untuk hambaNya.



*******

Minggu, 04 September 2016

PENGUMUMAN HASIL SCREENING DBS 2016




















Hallo selamat pagi semuanyaa.. ciee lagi nunggu hihi
Maaf sebelumnya ya baru di post nih
Langsung aja aaahh kita kasih tau siapa aja yang lolos dan menjadi DBS 2016 ^^
Inilah 22 mahasiswa yg lolos jadi DBS 2016:

1. Yola Vebiola (FPIK)
2. Irma Dwi Kartikasari (FISIP)
3. Rika Mahardika Yuniati (FaPerta)
4. Binta Nurul Azkia (FIB)
5. Tiwi Aprillia (FIB)
6. Melisa (FEB)
7. Ani Suryani (FIB)
8. Dita Mustikasari (FISIP)
9. Qanita Qamarunisa (FH)
10. Liana Azani (FH)
11. Uswatun Khasanah (FIKes)
12. Puspita Rahayu (FIB)
13. Shafira Anindyanari (FISIP)
14. Ayu Wulan Nugraheni (FEB)
15. Aisyah Nur Fauziah (FABio)
16. Ilham Anugrah (FH)
17. Hendar Syaeful Bahri (FMIPA)
18. Fembri Dhias Pratama (FH)
19. Alfaris Adlan Nugraha (FISIP)
20. Denisa Nurmalaya Islamiatie (FIKes)
21. Sabrina Pramudinta Kusumaningrum (FIKes)
22. Widya Marsepti Haristi (FMIPA)


Nah itu dia 22 mahasiswa yg lolos screening DBS 2016.

Selamat berproses di Duta Baca Soedirman
Salam Loyalitas Tanpa Batas

Selasa, 30 Agustus 2016

Karyaku Untuk Almamater dan Indonesia Tercinta

Karyaku Untuk Almamater dan Indonesia Tercinta

Firdian Achmad Izom
Faperta
Duta Baca Soedirman 2016

Ketika toga dan sandang gelar sarjana pertanian telah aku dapat kelak aku akan mengabdikan ilmu yang telah kudapat untuk kepentingan nusa dan bangsa serta Univresitas tercinta Univresitas Jendral Soedirman. Dengan melihat kondisi pertanian di Indonesia ini yang para petaninya sudah semakin terpuruk karena tertindas oleh kegiatan impor yang sudah tidak terkendalikan dan seolah-olah petani kita tidak mampu mencukupi kebutuhan kita sendiri. Sebagai contoh yaitu impor beras dann kedelai yang semakin meningkat dari tahun-ketahun, dan maraknya buah-buahan impor berlebel USA dan China di pasaran. Akibatnya produk pertanian dalam negri tergeser dan berdampak sangat besar bagi petani lokal. Mereka terancam tidak bisa bersaing dan bahkan akan kehilangan pasar mereka di pasarnya sendiri. Hal ini juga akan menaikkkan kesenjangan sosial antara petani dan pemererintah tentng kebijakannya itu. Sekiranya itu, dengan ilmu pengetahuan yang saya peroleh, saya ingin mengajak para petani lokal untuk bersama-sama meningkatkan kwalitas dan kuantitas pertanian di Indonesia dengan membuka sebuah program yang akan saya buat yaitu “Gagang Pacul Dadi Makmur”. Itu adalah sebuah istilah jawa yang artinya dengan bertani kita bisa sukses dan berjaya. Program tersebut akan mempunyai kegiatan antara lain penyuluhan, penelitian dan pengembangan sumber daya manusia dan sumber daya alam disekotor pertanian menengah.

Para petani lokal diharapakna dapat menerima dan dapat bekerjasama dengan apa yang telah saya rencanakan. Dalam merealisasikan kegiatan tersebut tentu banyak hal berkaitan dengan masalah pro dan kontra.  Hal tersebut tentu saja sudah mejadi hal yang wajar dalam sebuah perubahan baru yang akan saya buat, namun itu tidak menjadi suatu masalah yang besar bagi saya. Dengan adanya pro dan kontra akan menjadikan kita terlatih secara mental dan mampu berfikir kritis. Semangat juang untuk mengabdikan diri untuk kemajuan Indonesia di sektor pertanian menjadi tanggung jawab kita semua.  Untuk mendukung supaya program saya berhasil diharapkan masyarakat umum bersdia mendukungnya. Selain itu masyarakat juga harus lebih mencintai produk dalam negri dibandingkan produk luar negri. Mari kita majukan pertanian Indonesia bersama-sama untuk menakhlukan pasar kita dan dunia.

Selain itu tak lupa juga dengan Univresitas Jendral Soedirman  tempat saya belajar dan mencari ilmu pengetahuan mengenai berbagai aspek pertanian yang ada. Dan dengan ilmu yang saya dapat dan bisa menggapai cita-cita saya. Saya akan mendukung dan saling membantu dalam hal apapun selagi saya mampu mampu melakukannya untuk memajukan insan generasi soedirman agar lebih maju dan sukses. Bagi saya hal yang terpenting adalah kebersamaan dan kekeluargaan yang harus selalu dijaga, jangan sampai sesama satu almamater  kita tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan apa yang terjadi dengan teman-teman kita. Hal ini menyadarkan saya betapa pentingnya kekeluargaan yang erat.               

Kelak ketika saya sukses saya akan berbagi pengalaman dengan mahasiswa adik-adik kelas saya, supaya mereka bisa terpacu dan ingin berusaha lebih agar bisa sukses dibidangnnya. Apabila ada mahasiswa yang sudah mempunyai pandangan dan perencanaan usaha yang matang mungkin dan terkendala oleh finansial, saya senantiasa akan berusah membantu semampu saya. Dengan adanya kerjasama yang baik antar generasi yang terus terjalin dengan baik akan membuat sumber daya manusia di Univresitas kita akan semakin baik dan dapat mengangkat nama baik sekolah tempat kita mencari ilmu. Sebagai contoh lain ketika saya mengetahui ada teman satu atap pembelajaran belum mendapatkan pekerjaan  sedangkan saya sudah, saya akan mencoba membantu menawarkan pekerjaan yang layak baginya. Akibatnya semua lulusan tidak ada yang bingung mencari pekerjaan kesana-kemari yang kadang-kadang ditolak oleh perusahaan tersebut. Selain itu saya juga ingin mencetuskan kegiatan-kegiatan yang lain untuk generasi soedirman yang akan mampu berkompetisi dikancas era globalisasi. Saya akan membuat berbagai program juga untuk mahasiswa yang masih duduk di bangku kelas, program yang akan saya buat yaitu insan soedirman yang besinar. Tujuan program ini adalah untuk menyiapkan mereka yang masih duduk dibangku kuliah agar siap bersaing ketika mereka sudah selesai menunaikan tugas di universitas. Progam ini akan membentuk sebuah organisasi untuk menampung para mahasiswa yang baru saja selesai wisuda. Mereka semua akan didata supaya terlihat jelas tujuan hidup mereka. Setelah itu saya bersama teman-teman saya yang tergabung dalam organiisasi tersebut akan mengarahkan mereka. Dengan koordinasi yang baik insya allah bisa meningkatkan kwalitas dari mahasiswa itu sendiri didalam dunia kerja.  Dengan demikian kita secara bersama-sama bisa meningkatkan lulusan Univresitas Jendral Soedirman yang bisa sukses dimasa yang akan datang. Terimakasih Univresitas Jendral Soedirman yang telah banyak mengajarkan berbagai aspek kehidupan agar menjadi generasi yang cerah dimasa yang akan datang. Jayalah generasi soedirman untuk selama-lamanya. Salam satu jiwa untuk kita semua.

GIZI BAIK BAGI INDONESIA

GIZI BAIK BAGI INDONESIA

Ditulis oleh
Dzakiyyah Azzahroh
FIKES, Ilmu Gizi
Duta Baca Soedirman 2016

Indonesia saat ini masih saja dihadapkan dengan masalah gizi buruk. Terutama di daerah-daerah terpencil yang sulit untuk di akses. Gizi buruk sendiri adalah suatu bentuk terparah akibat gizi menahun. Selain akibat kurangnya mengkonsumsi jenis makanan bernutrisi seimbang, gizi buruk juga bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit tertentu yang menyebabkan gangguan pencernaan atau gangguan penyerapan zat makanan yang penting untuk tubuh. Sebagai calon sarjana gizi saya ingin membuat Indonesia maju dalam hal kesehatan dengan menghilangkan masalah gizi buruk yang masih menjamur di masyarakat.

Seperti yang dilansir oleh Liputan6 pada 2013 bahwa persentase penyandang gizi buruk di Indonesia secara nasional tercatat sebanyak 4,7 persen yang disampaikan oleh Kasubdit Bina Gizi Klinis Kementrian Kesehatan Andry Harmami. Memang angka tersebut masih terbilang kecil dibandingkan angka 100 persen. Tetapi angka ini tidak dapat dianggap remeh. Jika kita melihat dari seluruh penduduk Indonesia, sama saja ada sekitar 11 juta penduduk di Indonesia yang menyandang status gizi buruk. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan. Karena jumlah tersebut hanya dari satu masalah penyakit yang menimpa penduduk Indonesia, belum dari penyakit-penyakit lainnya.

Seiring berjalannya waktu, status gizi penduduk Indonesia makin meningkat. Walaupun masih belum bisa dibandingkan dengan negara-negara yang telah maju. Namun peningkatan ini cukup baik jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pada awal tahun 2016 Menteri kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) menyatakan status gizi Indonesia lebih baik dari sebelumnya. Hai ini dibuktikan dengan meningkatnya cakupan ASI Eksklusif dan menurunnya angka Balita pendek di Indonesia. Lancet Breastfeeding Series 2016 menyebutkan ASI Eksklusif di Indonesia meningkat dari 38% menjadi 65%, ujar Menkes usai membuka kegiatan Puncak Peringatan Hari Gizi nasional (HGN) ke-56 Tahun 2016 pada bulan Maret lalu. Indonesia pun mengalami keberhasilan lainnya dengan menurunkan angka stunting dari 37,2% menjadi 29,0%. Dengan menurunnya angka stunting di Indonesia membuktikan bahwa gizi Indonesia makin membaik.

Meskipun begitu, indonesia masih memiliki penduduk yang mengalami kekurangan gizi. Maka dari itu, saya ingin membuat Indonesia terbebas dari masalah ini dengan cara membuat dan membuka klinik atau rumah sakit gizi. Nantinya klinik atau rumah sakit ini dapat dikunjungi oleh semua kalangan. Baik orang-orang dengan ekonomi menengah, menengah kebawah, maupun menengah keatas. Klinik atau rumah sakit ini pun tidak membutuhkan kartu-kartu kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu. Seperti halnya B.J. habibie, ia membuka sebuah rumah sakit khusus jantung yang dimana masyarakat miskin tidak membutuhkan kartu-kartu kesehatan untuk dapat berobat secara gratis disana, karena beliau telah memfasilitasi masyarakat miskin untuk berobat secara gratis. Saya ingin membangun dan membukasebuah tempat yang mirip seperti itu. Dimana masyarakat miskin tidak perlu kesulitan untuk mendapatkan pengobatan.

Dengan saya  membangun dan membuka sebuat tempat seperti itu saya pun dapat membuat sebuah lahan pekerjaan yang cukup besar bagi sarjana-sarjana Indonesia yang belum mendapatkan pekerjaan dan pengangguran.

Dengan berdirinya klinik atau rumah sakit tersebut saya pun dapat membantu pemerintah dalam mengurangi angka penderita gizi buruk di Indonesia. Karena hingga saat ini penderita gizi buruk masih cukup banyak. Ada yang masih balita, batita, hingga remaja yang hampir beranjak dewasa pun ada yang menderita penyakit ini.

Seperti halnya yang telah dilansir oleh Liputan6, di Makassar ada seorang remaja bernama Hasrullah berusia 17 tahun warga Bontobaddo, RT 003/RW 001 Desa Tindang, Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dirawat di Rumah Sakit Labuang Baji Makassar karena kondisinya yang sangat lemah. Ia telah divonis oleh dokter menderita gizi buruk.
Nurareni, ibu kandung Hasrullah mengungkapkan, pada awalnya anaknya hidup normal sama seperti anak-anak lain. Namun ketika tamat sekolah dasar (SD), tiba-tiba kondisi tubuhnya menurun.

Dia melanjutkan, Hasrullah yang hanya memiliki berat 30 kg kala itu mulai sering demam dan lama-lama tubuhnya mengecil. "Obat dari puskesmas hanya bisa meredakan demam hanya sesaat, kemudian muncul lagi," kata Nuraeni kepada Liputan6.com saat ditemui di RS Labuang Baji Makassar, Kamis 21 Juli 2016.

Karena kondisi tubuhnya makin memburuk, Hasrullah mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Apalagi dia juga harus dipapah ketika hendak bergerak.

"Dia sudah mendaftar masuk SMP dan dinyatakan lolos tapi karena kondisi badannya yang sangat kurus dan sulit jalan, ia lalu malu dan minder untuk melanjutkan sekolah," ungkap Nuraeni.
Selama itu Hasrullah hanya bisa terbaring di ranjang tidur rumahnya. Sang bunda selalu membantu aktivitas sehari-harinya, seperti mandi. Sementara bapaknya, Arsyad Nambung setiap hari bekerja menggarap sawah orang dan nanti balik ke rumah usai maghrib.

"Karena kondisinya yang semakin lemah, kemarin saya membawa ke RS Labuang Baji yang ada di Kota Makassar dengan bermodalkan Kartu Indonesia Sehat (KIS)," tutur dia.

"Hasrullah saat ini dirawat di kamar Bajiminasa E6 Lantai 2 RS. Labuang Baji Makassar," ucap Nuraeni.


Dari cuplikan berita yang saya ambil dari Liputan6 tersebut kita dapat melihat, bahwa gizi buruk tidak menyerang kepada anak kecil saja. Anak yang telah beranjak dewasa pun dapat mengalaminya. Maka dari itu dengan saya membangun dan membuka klinik atau rumah sakit gizi ini saya berharap saya dapat menghilangkan penyakit gizi buruk yang masih menjamur dipenduduk Indonesia.

Demi Keluarga, Demi Kemanusian, dan Demi Indonesia

Demi Keluarga, Demi Kemanusian, dan Demi Indonesia

Ditulis oleh
Arya Indra Madani
Pendidikan Dokter

G1A016050

Dokter adalah pekerjaan yang dapat dibilang sangat menjanjikan akan masa depan. Hidup bergelimang harta, penuh dengan kemewahan, dan berada dalam kemapanan. Tak perlu bekerja keras, tak perlu bersusah payah, dan tak perlu memeras keringat, hanya dengan pemeriksaan ringan sudah bisa mendapatkan uang. Setidaknya itulah mindset masyarakat Indonesia pada umumnya tentang seorang dokter. Tetapi, itu semua berbeda dengan pemikiranku sebagai seorang generasi penerus bangsa.  Aku memiliki idealisme bahwa menjadi dokter adalah bukan untuk kemapanan, bukan untuk kekayaan, serta bukan untuk kemewahan. Akan tetapi, menjadi dokter adalah sebuah tujuan mulia melaksanakan perintah Tuhan untuk menolong sesama, berjuang demi kemanusian, dan tentunya mengabdikan diri kepada masyarakat Indonesia.
            Namaku Arya Indra Madani, seorang pemuda yang lahir di Jayapura, 30 Mei tujuh belas tahun silam. Sudah sejak menginjak bangku sekolah dasar, aku memiliki gambaran masa depan sebagai seorang dokter. Pada awalnya memang mindsetku tentang dokter, sama seperti masyarakat pada umumnya. Berkeinginan menjadi dokter hanya untuk mencari harta, harta, dan harta. Entah sejak kapan pola pikirku mulai berubah, yang pasti ada beberapa nasehat yang telah menyadarkanku. Pertama, nasehat dari seorang guru Fisika sekaligus wali kelas kelas akselerasi SMAN 3 Jombang. Kurang lebih beginilah nasehat beliau “Nak jika kamu ingin kaya jangan jadi dokter. Dokter itu melayani masyarakat, mengabdi pada masyarakat, dan berjiwa sosial tinggi.”. Kedua, nasehat dari kedua orang tuaku yang mengatakan bahwa dokter itu bukan lahan untuk mencari uang, dokter itu fiisabilillah berjuang di jalan Allah. 
            Karena kedua nasehat tersebut, aku semakin yakin akan berjuang di jalan Allah, berjuang demi kemanusian, dan berjuang demi masyarakat. Tahun 2016, akhirnya dengan jerih payah aku berhasil diterima sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jendral Soedirman. Hal ini tentu saja kebahagiaan terbesar dalam hidup, melihat orang tua tersenyum bangga membuatku ingin meneteskan air mata bahagia. Masuk sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Jendral Soedirman adalah sebuah langkah besar bagiku untuk memulai perjuangan yang tiada henti.  Dalam 4 sampai 5 tahun kedepan, akan aku manfaatkan waktu dan kesempatan untuk mencari ilmu, pengalaman, keahlian, dan rekan sebanyak-banyaknya kemudian lulus dengan prestasi yang membanggakan.
            Menurutku bagian sulit dalam hidup adalah ketika kita telah selesai menamatkan kuliah. Kita akan dihadapkan pada realita kehidupan yang keras. Setelah selesai kuliah, dan akhirnya mendapatkan gelar Dr., aku mempunyai sebuah keinginan untuk bekerja di sebuah rumah sakit untuk sekitar satu sampai dua tahun. Waktu tersebut akan kugunakan untuk mencari uang dan mengumpulkan modal untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialis bedah.Selain itu uang tersebut juga akan kugunakan untuk membantu membiayai kuliah adikku.
Setelah berhasil menjadi dokter spesialis, aku akan kembali kerja di rumah sakit untuk lima sampai tujuh tahun. Dalam rentang waktu tersebut aku akan membeli rumah sendiri dan berangkat ke tanah suci bersama keluarga tercinta. Aku juga punya rencana akan mengumpulkan semua teman yang bekerja dalam bidang yang sama denganku untuk membuat sebuah projek. Aku ingin mendirikan rumah sakit atau klinik sendiri bersama mereka. Rumah sakit dimana aku berada di posisi sebagai pimpinan rumah sakit tersebut.Rumah sakit dimana memiliki sistem pelayanan yang sangat baik pada pasien yang kurang mampu, memberikan keringanan biaya kepada mereka. Tidak semena-mena terhadap masyarakat yang tidak mampu membayar biaya pengobatan, tidak semena-mena membedakan antara masyarakat kelas atas dan masyarakat kelas bawah. Tak perlu besar dan tak perlu mewah yang terpenting cukup untuk menampung dan mengobati masyarakat sekitar.
Jika telah sukses pada suatu daerah, aku akan buka rumah sakit yang sama di daerah lain. Ini adalah mimpi terbesarku saat ini, yaitu memiliki rumah sakit yang mengabdi kepada semua masyarakat Indonesia dari golongan atas hingga bawah tanpa terkecuali, di seluruh daerah di Indonesia agar tak ada lagi warga negeriku ini yang menderita karena kurangnya instansi-instansi kesehatan pemerintah, menderita karena mahalnya biaya pengobatan, menderita karena kurangnya pengetahuan akan kesehatan. Sekilas nampak keinginanku memiliki rumah sakit dengan sistem pelayanan tersebut  akan sulit bahkan hampir mustahil untuk diwujudkan. Namun, inilah mimpiku, mimpi yang akan aku perjuangankan sampai titik darah penghabisan, demi kemanusiaan dan demi negeriku tercinta.
Selain itu aku juga ingin membuka klinik pengobatan gratis di kampung halamanku, Jombang sebagai tanda pengabdianku kepada kota tercinta. Klinik yang tidak hanya menyembuhkan masyarakat, namun juga mengedukasi masyarakat tentang berbagai hal dalam dunia kesehatan. Pada saat usiaku telah mulai senja, aku berencana untuk menjadi seorang menteri kesehatan. Aku ingin mengubah sistem pelayan kesehatan di Indonesia agar lebih mudah, adil, dan merata. Aku juga akan berjuang menyejahterakan dokter sebagai pejuang kemanusiaan agar tidak menarik biaya berlebihan kepada pasien dan berjuang agar biaya kesehatan di Indonesia semakin terjangkau. Di akhir hayatku, aku ingin dikenang sebagai seorang lelaki yang berjuang demi keluarga, demi kemanusiaan, dan demi Indonesia.